Hard Selling VS Soft Selling

Marketing - 04 Des 2017

Setiap brand penting untuk mengkomunikasikan campaign yang dibuat untuk disampaikan ke seluruh target sasaran mereka. Campaign tersebut dibuat semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian target sasaran. Berbagai cara dan strategi dibuat dan disesuaikan dengan tujuan produk dan juga target sasaran. Brand juga dapat memilih pendekatan untuk mengkomunikasikan brand lewat hard selling atau soft selling. Dua pendekatan itu memiliki dampak dan juga cara tersendiri untuk menghasilkan nilai yang maksimal untuk sebuah campaign.

Soft Selling

Pendekatan soft selling ini mengkomunikasikan campaign dengan memberikan nilai-nilai yang akan didapatkan dari brand. Terkadang pendekatan ini digunakan untuk menyampaikan pesan tersirat dengan cerita-cerita inspiratif yang menyentuh hati. Dalam mengkomunikasikan campaign, pendekatan ini tidak langsung mengajak audiens untuk langsung membeli. Target sasaran diajak untuk memikirkan kembali nilai-nilai yang akan didapatkan dari produknya. Misalkan, mengkomunikasikan produk susu bayi. Campaign dari brand tersebut dapat mengangkat cerita inspratif seorang ibu menjaga bayinya. Headline tersebut bisa berupa “Ini Kisah Inspiratif Ibu Menjaga Tumbuh Kembang si Kecil.

Sumber gambar

Hard Selling

Pendekatan hard selling ini mengkomunikasikan campaign dengan menunjukkan brand dapat mudah dijangkau oleh target sasaran. Pendekatan ini mengkomunikasikan secara langsung (to the point) tujuan dilakukan pemasaran dari campaign tersebut. hard selling ini dapat langsung menunjukkan harga yang ataupun promo yang sedang diadakan oleh brand. Misalkan, mengkommunikasikan produk handphone. Dalam headline tersebut dapat langsung menunjukkan harganya “Handphone Seri Terbaru Hanya dengan Harga 500 Ribu Saja!”.  Melalui pendekatan hard selling audiens tidak perlu memikirkan nilai-nilai sebuah produk, oleh karena itu prosesnya juga akan lebih singkat. Pendekatan hard selling ini tidak selalu tentang harga, tetapi juga mempersingkat proses atau user consideration-nya. Misalkan, mempromosikan produk mobil dapat menawarkan test drive untuk audiens.

Sumber gambar

Pendekatan hard selling dan soft selling ini sangat bertolak belakang dan memiliki cara penggunaan yang berbeda. Dalam mengkomunikasikan campaign terkhusus di Indonesia, apabila harganya dapat dijangkau oleh target sasaran, maka menggunakan hard selling menjadi lebih efektif. Apabila harga dari produk tersebut cukup tinggi maka soft selling adalah pilihan yang tepat. Melalui soft selling, target sasaran akan diajak untuk melihat keseluruhan nilai dan manfaat yang akan didapatkan dari produk tersebut. So, manakah bentuk campaign yang sesuai dengan produk/jasa Anda. Apapun pilihan Anda, Kertas Putih Creative House siap mendampingi Anda sebagai partner marketing Anda. Klik disini untuk info selengkapnya ya!

Sumber

Sumber Gambar Thumbnails